Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
20.46
Dalam film ini Anda dapat mengkaji sejumlah fakta tentang "Kaum Saba" yang mendiami wilayah yang sangat indah dengan kebun-kebun anggur dan taman-tamannya. Dikisahkan pula di dalamnya bagaimana kaum tersebut tiba-tiba dihancurkan oleh banjir 'Arim. Anda pun akan mengkaji tentang Fir'aun, yang menolak mendengarkan risalah yang dibawa Nabi Musa, dan saudaranya Harun, tatkala mereka menyampaikan perintah Allah. Saksikan pula kehancuran Fir'aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan ke dalam air.
BANGSA-BANGSA YANG DIMUSNAHKAN II
Written By Unknown on Senin, 04 Februari 2013 | 20.46
Dalam film ini Anda dapat mengkaji sejumlah fakta tentang "Kaum Saba" yang mendiami wilayah yang sangat indah dengan kebun-kebun anggur dan taman-tamannya. Dikisahkan pula di dalamnya bagaimana kaum tersebut tiba-tiba dihancurkan oleh banjir 'Arim. Anda pun akan mengkaji tentang Fir'aun, yang menolak mendengarkan risalah yang dibawa Nabi Musa, dan saudaranya Harun, tatkala mereka menyampaikan perintah Allah. Saksikan pula kehancuran Fir'aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan ke dalam air.
20.21
Sepanjang sejarah dunia, beragam peradaban tumbuh berkembang, berkuasa selama beberapa masa, dan kemudian surut tatkala akhir kejayaan mereka tiba. Meski memiliki kekuasaan yang hebat dan harta benda yang berlimpah, pada akhirnya mereka pun musnah dari muka bumi. Dalam film ini, kita akan mengkaji kaum-kaum yang hidup di masa lalu yang dihancurkan karena keingkaran mereka terhadap Allah. Mereka adalah kaum 'Aad, kaum Luth dan penduduk kota.
Sumber : Yaratilistr
BANGSA-BANGSA YANG DIMUSNAHKAN I
Sepanjang sejarah dunia, beragam peradaban tumbuh berkembang, berkuasa selama beberapa masa, dan kemudian surut tatkala akhir kejayaan mereka tiba. Meski memiliki kekuasaan yang hebat dan harta benda yang berlimpah, pada akhirnya mereka pun musnah dari muka bumi. Dalam film ini, kita akan mengkaji kaum-kaum yang hidup di masa lalu yang dihancurkan karena keingkaran mereka terhadap Allah. Mereka adalah kaum 'Aad, kaum Luth dan penduduk kota.
Sumber : Yaratilistr
23.07
Banyak pertanyaan yang terlontar dari berbagai kalangan “ Mengapa kurikulum di negara kita sering berubah? ”. Dan banyak juga pernyataan yang merupakan jawaban sinis dari pertanyaan di atas, ” Biasa, ganti Menteri Pendidikan, ya ganti kurikulumnya’’Benarkah demikian?
EVOLUSI KURIKULUM PENDIDIKAN INDONESIA
Written By Unknown on Minggu, 03 Februari 2013 | 23.07
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Banyak pertanyaan yang terlontar dari berbagai kalangan “ Mengapa kurikulum di negara kita sering berubah? ”. Dan banyak juga pernyataan yang merupakan jawaban sinis dari pertanyaan di atas, ” Biasa, ganti Menteri Pendidikan, ya ganti kurikulumnya’’Benarkah demikian?
Mari menyimak sejenak secara global tentang perjalanan sejarah kurikulum kita. Dalam perjalanan sejarah sejak Indonesia merdeka, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan berturut-turut, yaitu pada tahun 1947, tahun1952, tahun1964, tahun1968, tahun1975, tahun1984, tahun1994, dan tahun2004, serta yang terbaru adalah kurikulum tahun 2006. Dinamika tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.
Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Namun yang jelas, perkembangan semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan perbedaannya terletak pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam mengimplementasikannya.
Dimulai pada tahun 1947, saat itu kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Peladjaran 1947 (sebutan kurikulum saat itu) merupakan pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
Pada tahun 1952, kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan, dengan menggunakan sebutan Rentjana Peladjaran Terurai 1952.
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Ciri yang paling menonjol dalam kurikulum 1952 adalah setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Menjelang tahun 1964, dilakukan kembali penyempurnaan sistem kurikulum di Indonesia, yang hasilnya dinamakan Rentjana Pendidikan 1964.
Yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah penekanan pada pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional / artistik, keprigelan, dan jasmani.
Dari Kurikulum 1964 diperbaharui menjadi kurikulum 1968, dalam hal ini terjadi perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Penekanan dalam Kurikulum 1968, pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik pengetahuan.
Sebagai pengganti kurikulum 1968 adalah kurikulum 1975. Dalam kurikulum ini menggunakan pendekatan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), mengarah kepada tercapainya tujuan spesifik, yang dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dalam pelaksanaannya banyak menganut psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).
Menjelang tahun 1983, kurikulum 1975 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan perkembangan IPTEK. Sehingga dipertimbangkan untuk segera ada perubahan. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 dengan kurikulum 1984.
Kurikulum 1984 berorientasi kepada tujuan instruksional, didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
Pada tahun 1993, disinyalir bahwa pada kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar yang kurang memperhatikan muatan pelajaran, sehingga lahirlah sebagai penggantinya adalah kurikulum1994.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya adalah beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan adalah diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994.
Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Dengan dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, sehingga sebagai konsekuensi logis harus terjadi juga perubahan struktural dalam penyelenggaraan pendidikan, maka bersamaan dengan hal tersebut terjadilah perubahan lagi pada kurikulum pendidikan.
Kurikukum yang dikembangkan pada tahun 2004 diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standard performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu KBK sebagai pedoman pembelajaran.
Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.
Dan akhirnya, penulis meyimpulkan bahwa dalam evolusi pendidikan kurikulum yang terus berkembang memenuhi tantangan zaman, maka tujuan utamanya adalah bagaimana mencerdaskan putra-putri bangsa Indonesia.
Oleh:
AHMAD ZULKI
Mahasiswa PTIQ Jakarta, Member UNITY 40 TH IPTIQ
22.59
PERANG KEBUDAYAAN
“Perang kebudayaan” adalah saat suatu kekuatan politik atau ekonomi melakukan penyerangan atau teror halus terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan umat lain. Serangan tersebut bertujuan merealisasikan keinginannya dan menundukkan umat dimaksud di bawah kendalinya. Dalam konteks perang ini, dengan cara paksa, memberlakukan keyakinan dan kebudayaan baru sebagai ganti kebudayaan dan keyakinan lama umat itu.
Perang kebudayaan menghendaki generasi baru melucuti keyakinan dirinya dengan berbagai cara. Pertama, menggoyangkan keyakinan mereka terhadap agamanya. Kedua, memutuskan hubungan mereka dari keyakinan mereka terhadap prinsip-prinsip revolusi. Ketiga, menjauhkan mereka dari pemikiran efektif yang mampu menghasilkan kekuatan besar yang berwibawa supaya menggiring mereka untuk merasakan keadaan yang diliputi ketakutan dan ancaman.
Perang kebudayaan dilakukan berdasarkan dua pilar yang patut kita perhatikan dengan seksama. Pertama, menggantikan budaya lokal dengan budaya asing. Kedua, melakukan serangan budaya terhadap nilai-nilai yang menyangga negara dan bangsanya dengan berbagai cara dan sarana. Diantaranya, mengimpor film-film dan drama picisan berseri produksi asing serta penyebaran buku-buku dan majalah yang ditulis berdasarkan arahan pihak asing.
Tentang “Benturan Kebudayaan” mungkin pernah mendengar atau membaca buku karya seorang Antropolog berjudul The Clash of Civilization. Buku ini dikarang oleh seorang Antropolog bernama Samuel P Huntington. Inti dari buku ini adalah bahwa suatu ketika akan datang masa dimana kebudayaan-kebudayaan yang satu akan saling bersaing dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain.
Persaingan ini akan menyebabkan benturan-benturan kebudayaan. Akibat dari benturan ini adalah munculnya satu kebudayaan pemenang, yang artinya kebudayaan-kebudayaan lain yang mengalami kekalahan akan tersingkir bahkan terhapus dari muka bumi. Dengan kata lain perang kebudayaan melahirkan sang pemenang yang akan menjajah bangsa lain dengan budayanya.
Teori Benturan Peradaban yang dipaparkan oleh Samuel Huntington, menunjukkan bahwa para ahli teori Barat, dalam rangka menyukseskan dan memaksakan pandangan-pandangan mereka, mencanangkan perang antara peradaban dan kebudayaan Barat melawan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa lain. Berbagai media massa Barat pun melancarkan propaganda luas terus menerus, menyerang nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan nasionalisme.
Serangan propaganda ini dilakukan dengan metode-metode yang sangat halus, sehingga tidak terasa oleh masyarakat pada umumnya. Media-media ini, dalam berbagai film, berita dan laporan, secara tidak langsung, menyerang dan melecehkan kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa lain. Pelecehan terhadap kesucian-kesucian agama dan kehormatan nasional, termasuk diantara metode lain yang digunakan oleh media-media Barat, dengan tujuan merendahkan kesucian-kesucian tersebut dalam pandangan masyarakat umum
Maka tak heran jika saat ini bangsa yang pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan di masa lalu telah mengalami keterpurukan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Suka atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang begitu bangga menjadi subordinasi dari imperialisme budaya bangsa lain.
Senjata budaya yang lain adalah teknologi, dengan mengangkat isu korelasi budaya dan teknologi. Isu yang menciptakan opini bahwa setiap teknologi itu menyimpan budaya yang khas. Dan, dimana saja teknologi itu masuk ke suatu negara, secara otomatis budayanya pun turut masuk ke dalamnya. Maka itu, kita dipaksa memilih dua pilihan; menerima teknologi dengan segenap budaya yang dikandungnya, atau sama sekali menolak secara mutlak teknologi berikut budayanya. Karena teknologi itu diperoleh dari dunia Barat, maka mau tidak mau budaya pun harus datang dari sana pula.
Kenyataannya, isu ini telah menunjukkan kegagalannya di Jepang. Mengapa? Karena di Jepang kendati secara terbuka menerima masuknya budaya Barat, namun mereka tetap menjaga dan mempertahankan adat istiadat, nilai-nilai ketimuran, serta budaya bangsanya. Dengan begitu, masyarakat Jepang mampu mencapai kemajuan yang luar biasa pesatnya, bahkan mampu melampaui pencapaian masyarakat Barat itu sendiri.
Perang butuh kepercayaan dan keyakinan terlebih perang budaya yang bersifat non-fisik yang berlangsung diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan atau menarik perhatian. Kita harus benar-benar mempercayai dan meyakini bahwasanya sekarang kita menjadi target serangan bertubi-tubi perang kebudayaan dari berbagai arah baik barat maupun timur. Serangan budaya ini bersifat menyeluruh, terorganisir dan terencana.
Perang kebudayaan lebih menyerupai bom kimia yang meledak di kegelapan malam yang tak seorangpun merasakannya. Namun, setelah ledakan itu terjadi beberapa saat, niscaya kita menyaksikan banyak orang yang wajah dan tangannya terluka parah. Perang kebudayaan berlangsung dalam bentuk seperti itu,secara tiba-tiba kita akan melihat akibat dan dampaknya secara jelas di sekolah-sekolah, organisasi, dan diberbagai pejuru tempat lainnya
Dan akhirnya penulis mengingatkan bahwa kebudayaan adalah sebuah maha karya peradaban dalam rentang sejarah sebuah bangsa, yang terkadang hanya diakui bahwa itu “milik kita” bahkan meradang kalau ada pihak yang lain mengaku miliknya. Kebudayaan bukanlah sebidang tanah atau sebuah rumah yang memiliki akte atau sertifikat sebagai “milik kita” maka amanlah dia, tetapi sebagaimana sejarah yang memiliki sifat kontinuitas, maka kebudayaan yang mengiringi sejarah sepatutnya mengalami keberlanjutan pula.
Kebudayaan bukan proses yang statis dan produk final tetapi selalu mengalami perkembangan. Maka dari itu proses keberlanjutan sejarah tidak hanya sekedar melestarikan tetapi juga harus dikembangkan dalam peradaban yang tinggi.
Oleh:
AHMAD ZULKI
Mahasiswa PTIQ Jakarta, Member UNITY 40 TH IPTIQ
Label:
Alam dan Lingkungan,
Artikel,
Seni dan Budaya
22.49
UMAT ISLAM DALAM SEJARAH
Sejarah Islam sering kali dikaitkan dengan adanya sebuah negara atau kerajaan Islam. Sejak awalnya, Islam ada dan tersebar sebagai sebuah umat-negara; Islam sekalaigus adalah agama dan tata politik. Dalam abad-abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad, wilayah-politik Arabia-lokal Muhammad menjadi imperium yang luas, terbentang dari Afrika Utara sampai Asia Tenggara.
Perkembangan Islam dan lembaga-lembaga negara (khilafah, hukum pendidikan militer, layanan-layanan sosial) jalin-menjalain. Sekali lagi, zaman Nabi menjadi paradigma bagi generasi-generasi sesudahnya, karena di Madinah mandat al-Qur’an mengambil bentuk dan substansi di bawah bentuk dan arahan sang Nabi.
Komunitas Madinah menjadi kerangka total bagi negara, masyarakat dan kebudayaan. Komunitas Madinah melambangkan mandat al-Qur’an agi Muslimin sebagai pribadi dan sebagai suatu umat “untuk mengubah dunia sendiri lewat aksi di dunia.” Aspirasi dan cita-cita ini telah menjadi tantangan bagi Umat Islam sepanjang sejarahnya.
Arabia abad ketujuh didominasi oleh dua imperium besar: Kekaisaran Bizantium (Kristiani), atau Romawi Timur dan kekaisaran Persia Sasanid (Zoroastrian). Di tengah–tengahnya adalah semenanjung Arabia, yang terdiri atas masyarakat-masarakat kesukuan yang tampaknya lemah dan terpecah-pecah. Dalam seratus tahun kedua imperium tersebut benar-benar runtuh dihadapan tentara-tentara Allah ketika Arabia bersatu di bawah payung Islam yang menjadi inti organisasi.
Di bawah pimpinan para pengganti Nabi, sebuah imperium dan persemakmuran negara-negara Islam mendominasi banyak belahan dunia. Para da’inya bisa dari golongan para tentara, pedagang dan para sufi. Islam menjadi basis identitas komunitas dan alasan atau legitimasi bagi para penguasa dan kebijakan ekspansi dan penaklukan mereka.
Sehingga misalnya perang-perang penaklukan diistilahkan sebagai Al-fath “membuka” atau “memenangkan” jalan untuk Islam. Seperti Muhammad memerintah negara lintas-suku atas nama Islam, demikian juga umat Islam menjadi terasosiasi dengan sebuah imperium yang ekspansif. Mengapa dan bagaimana hal ini bisa terjadi?
Segera setelah penaklukan Makkah, Muhammad mengalihkan perhatiannya untuk memperluas dan mengkonsolidasikan kekuasaannya atas Arabia. Para utusan dikirim dan aliansi-aliansi dibentuk bersama suku-suku dan para penguasa di sekitarnya. Suku-suku Baduwi Arabia yang sangat independen disatukan dibelakang Nabi lewat kombinasi antara kekuatan militer dan diplomasi.
Sebagaimana Muhammad sekaligus adalah kepala negara dan Rasul Allah, demikian pula para utusan, tentara negara adalah utusan dan tentara Islam da’i-da’i pertamanya. Di samping militer dan diplomasi, mereka membawa al-Qur’an dan ajaran-ajaran agama mereka. Di samping itu mereka menyebarkan pandangan hidup yang memepengaruhi tata politik dan sosial maupun kehidupan pribadi dan ibadah.
Islam mencakup sekaligus sistem iman dan politik. Secara ideal orde baru ini adalah komunitas kaum beriman, yang mengakui kedaulatan tertinggi Tuhan, hidup sesuai dengan hukum-nya, mematuhi Nabi-nya dan mendedikasikan kehidupan mereka untuk menyebarkan kekuasaan dan hukum Tuhan.
Inilah risalah dan visi yang menyertai para tentara Arab ketika mereka berhamburan keluar dari Arabia dan membangun supremasi mereka di seluruh Timur Tengah. Yang paling mencolok dari awal ekspansi awal Islam adalah kecepatan dan keberhasilannya dan para ilmuan Barat dibuat terkagum-kagum oleh hal ini.
Sementara kaum Muslimin memandang penaklukan-penaklukan tersebut sebagai mukjizat atau pembuktian historis atas kebenaran klaim-klaim Islam dan sebagai tanda hidayah Tuhan. Dalam satu dekade kekuatan-kekuatan Arab mengepung tentara-tentara Bizantium dan Persia yang dilemahkan oleh tahun-tahun penuh peperangan dan menaklukan Irak, Syiria, Palestina, Persia dan Mesir.
Momentum kemenanagn-kemenangan awal ini diperpanjang dengan serangkaian pertempuran brilian di bawah pimpinan para panglima agung semisal Khalid ibn Walid dan Amr ibn Ash, yang memperluas batas wilayah imperium Muslim sampai ke Maroko dan Spanyol di Barat melintasi Asia Tengah sampai India Timur.
Di dorong oleh imbalan ekonomi dari penaklukan atas wilayah-wilayah yang lebih kaya, lebih maju, disatukan dan diilhami oleh agama baru mereka, tentara-tentara Islam terbukti menjadi penakluk yang tak terhadang dan menjadi penguasa yang efektif, mereka menjadi pembagun bukan perusak. Mereka menganbil alih negeri-negeri yang ditaklukan mengganti para penguasa dan tentara lokal tetapi mempertahankan banyak hal dari pemerintahan, birokrasi dan kebudayaan mereka.
Ekspansi Islam yang mengagumkan dihasilkan tidak hanya dari penaklukan tentara tapi juga dengan jalan damai. Demikian pula dalam abad-abad kemudian di banyak wilayah Afrika, anak benua India dan Asia Tenggara, penyebaran Islam yang efektif disebabkan terutama oleh para pedagang, da’I dan sufi yang berhasil mengislamkan lewat teladan dan dakwah mereka.
Jakarta 07 juli 2011
Oleh:
Fathur Rozi
Mahasiswa PTIQ Jakarta, Member UNITY 40 TH IPTIQ
Label:
Agama dan Islam,
Artikel
22.40
Dalam lima kali sehari ratusan atau bahkan jutaan muslim di dunia ini menghadap ka’bah untuk melakukan sembahyang. Mereka adalah bagian dari komunitas Islam yang membentangi bumi ini yang berjumlah kurang lebih 900 juta pemeluk lebih, yang senantiasa menyebarkan risalahnya di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara.
MUHAMMAD DAN WAHYU
Selain lebih dari empat puluh empat negara terbentang dari Senegal sampai Indonesia, risalah Islam dan penduduk muslim dapat pula ditemukan di [eks] Unisoviet, Cina, India, Inggris, Amerika dan mereka sudah pasti mengetahui siapa itu Muhammad dan apa yang disebut wahyu itu.
Muhammad bin Abdullah dilahirkan di Makkah kira-kira tahun 570 beliau berasal dari golongan keluarga yang terhormat, keturunan suku atau kaum Quraisy. Ayah beliau telah meninggal dunia sebelum beliau lahir dan ibunya meninggal ketika beliau masih anak-anak.
Kemudian beliau dibesarkan oleh pamannya yang bernama Abu Thalib, seorang yang walaupun tidak mau menerima Islam tetapi dia mempertahankan keponakannya mati-matian dari permusuhan ataupun penolakan keras yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yang membenci agama Islam yang baru itu.
Tidak banyak diketahui tentang kehidupan Muhammad sebelum beliau menerima wahyu [Al-Qur’an] ketika beliau berusia kira-kira empat puluh tahun, beliau adalah seorang yang amat jujur dan berahlak mulia sehingga membuat janda kaya yang bernama Khadijah yang umurnya lima belas tahun lebih tua dari beliau mempekerjakan atau mempercayakan pada beliau untuk mengurusi perdagangannya.
Khadijah begitu terkesan oleh kejujuran dan perangai beliau sehingga ia meminta beliau untuk menjadi suaminya, yang pada saat usia beliau dua puluh lima tahun lebih muda beliau menerima permintaan itu dan tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal dunia pada saat beliau berusia lima puluh tahun.
Beliau juga secara teratur menyepi ke Gua Hira dimana beliau menghabiskan banyak waktu untuk berkontemplasi sehingga pada saat proses batiniah atau pengalaman religio-moral ini mencapai puncaknya dengan turunnya wahyu kepada beliau pada saat beliau tenggelam dalam relung renungannya yang dalam, dan wahyu itu kita sebut dengan al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad saw, menururt hadis wahyu yang pertama kali diturunkan kepaa Nabi adalah wahyu berikut:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu, yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantara pena (kalam): Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah sesungguhnya manusia itu bener-benar melampaui batas (pendurhaka), karena dia melihat dirinya serba cukup. Tapi kepada Tuhanmu semuanya akan kembali”
Cerita-cerita paling awal tentang Muhammad merujuk pada kenyataan bahwa pengalaman ini terjadi dalam atau disertai oleh suatu keadaan ‘setengah sadar’ atau ‘kwasi’-mimpi, karena Nabi diriwayatkan setelah menceritakan pengalamnnya itu telah mengatakan: “Kemudian aku terjaga” sementara tradisi Islam menjelaskan bahwa pengalaman-pengalaman wahyu Nabi ini biasanya disertai oleh gejala-gejala fisik tertentu.
Berdaasarkan ini beberapa sejarawan modern mengemukakan bahwa Nabi Muhammad menderita penyakit ayan. Tapi, bila kita periksa lebih seksama teori penyakit ayan ini menghadapi sanggahan. Pertama-tama, kondisi ini timbul baru setelah karir kenabian Muhammad mulai, yaitu setelah beliau berusia empat puluh tahun sedangkan kondisi tersebut tidak ada jejaknya di dalam kehidupan beliau sebelumnya.
Hadis atau tradisi Islam diatas tersebut menjelaskan bahwa kondisi ini hanya terjdi bersama-sama dengan pengalaman penerimaan wahyu dan tidak pernah terjadi secara terpisah. Sungguh kalau ini disebut dengan penyakit ayan, tentulah itu jenis penyakit ayan yang aneh yang selalu menyerag pada saat turunnya prinsip-prinsip hidayah bagi suatu gerakan yang sedemikian kreatif dan kuatnya seperti gerakan Nabi tu, serta tidak pernah kambuh diwaktu lain.
Hampir tidak bisa dipercaya bahwa sesuatu penyakit yang telah kelihatan seperti ayan tidak diketahui dengan jelas dan pasti oleh suatu masyarakat Makkah atau Madinah pada waktu itu. Cerita ini juga menggambarakan Nabi selama turunnya wahyu, bagaikan dalam keadaan psiko-fisik yang tidak normal, padahal penyakit ayan bagaimanapun juga bisa terjadi dalam keadan normal.
Kini pandangan teradap Nabi dan wahyu kenabiaan yang menyatakan bahwa tingkat kesadaran Nabi adalah normal merupakan pandangan yang didukung oleh semua orang, bahkan dikemudian harinya dirumuskan secara eksplisit oleh ortodoksi Islam. Perumusan ini diduga untuk menjamin eksternalitas dari malaikat atau suara wahyu demi mengamankan obyektifitas wahyu.
Mungkin hal ini bagi kita secara intelektual nampak tidak dewasa, tetapi pada masa tatkala ajaran-ajaran dogma sedang dalam proses pembentukan, tentunya terdapat alasa-alasan yang cukup untuk memaksa mengambil langkah yang demikian itu dengan tujuan untuk menghadpi kaum rasonalitas.
Jakarta 07 juli 2011
Oleh:
Fathur Rozi
Mahasiswa PTIQ Jakarta, Member UNITY 40 TH IPTIQ
Label:
Agama dan Islam,
Artikel
22.15
A. Pengertian Bahasa
B. Mengapa manusia Berbahasa?
Apa itu bahasa dan mengapa manusia berbahasa?
Bahasa adalah suatu alat yang digunakan untuk menyampaikan/mengungkapkan pikiran atau perasaan dengam menggunakan simbol-simbol komunikasi baik berupa suara, gestur, tulisan atau simbol-simbol yang lainnya.
B. Mengapa manusia Berbahasa?
Berikut alasan Manusia Berbahasa:
- Manusia adalah makhluk sosial
- Mengimplentasikan jati diri yang dibawa sejak lahir
- Refleksi antar manusia ataupun dengan lingkungannya
- Eksistensi kodrat manusia sebagai makhluk sosial
Disusun oleh: Idham Cholid, Rozi, Mumtaz, Lukman, Cecep Muhtadin, dan Hasrul
21.29
The Holy Quran states that man is the noblest of created. Man is God's caliph on His earth. God has sent the messengers and prophets revealed The Holy Books and the which bring good tidings and warnings to people. Ass muslim, we must believe that there is twenty five prophets ass say in the holy Quran. They order us to believe to Allah SWT. But In the reality, parts of people righteous and the other ass dissident in this world. This is need internalization from us that live is dedication to lord this world. Allah create man with mission ass caliph in this World. Allah say in the Holy Quran :
ISLAM AND ENVIRONMENT
The Holy Quran states that man is the noblest of created. Man is God's caliph on His earth. God has sent the messengers and prophets revealed The Holy Books and the which bring good tidings and warnings to people. Ass muslim, we must believe that there is twenty five prophets ass say in the holy Quran. They order us to believe to Allah SWT. But In the reality, parts of people righteous and the other ass dissident in this world. This is need internalization from us that live is dedication to lord this world. Allah create man with mission ass caliph in this World. Allah say in the Holy Quran :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ﴿البقرة : ٣٠﴾
The concept of environment is broad and is used in many different ways. The environment is the medium which man lives. It is necessary that the mother's womb is the first environment, home is an environment, school is an environment, the place we live is an environment, the earth is an environment and the whole universe is an environment . mother's
According Stockholm, he say that The environment is the sum of the material and social resources available at a given time and place to satisfy the needs and aspirations of man.
We derive from Some Important facts about the relationship Between man and universe, in the light of the Shari'a. The which are Necessary for the the life of Man as caliph on this earth :
- The Relationship between the Muslim and the environment is a religious and moral relationship.
- Islam's care for the environment stands on the basis of faith.
- The moral dimension in dealing with the environment is necessary for life to be righteous and for the correct progress of the order of existence.
- The linkage of reward and punishment in Islam's concern for the environment.
- Islam stresses and affirms the high position of the man of knowledge who through arrives to understanding of God's signs in the universe and the earth, astronomy, medicine etc.
Ass conclusion, Islam cares for the environment in every sense of the word and in all its aspects whether in relation to the earth and the laws dealing with it. Every Individual Should Realize true his responsibility on this earth and the truth of caliph. Man Should abandon frivolity, oppression and lack of concern for the environment. So that, we Should care for the environment and keep it all our live.
Oleh Hasrul
Label:
Agama dan Islam,
Alam dan Lingkungan,
Esai






