Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Ilmu dan Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu dan Filsafat. Tampilkan semua postingan
22.17
AL-QURAN PEMBUKA JALAN BAGI ILMU PENGETAHUAN
Written By Unknown on Senin, 04 Februari 2013 | 22.17
Pernahkah Anda berpikir bahwa bumi tempat Anda berjalan saat ini sedang bergerak dengan kecepatan 1.670 kilometer per jam? Pernahkah Anda merenungkan mengapa rambut Anda senantiasa tumbuh memanjang, tidak seperti alis dan bulu mata Anda ? Jika tidak demikian, bukankah hal itu akan buruk bagi Anda? Pernahkah Anda memikirkan tentang seluruh peristiwa menakjubkan yang terjadi di dalam tubuh Anda atau yang berlangsung di sekitar Anda? Film ini adalah seruan untuk memikirkan hal-hal tersebut. Sebab, dalam Al Qur'an Allah mengajak kita berpikir tentang makhluk hidup yang Dia ciptakan.
06.08
AGAMA FILOSOFIS
Written By Unknown on Minggu, 03 Februari 2013 | 06.08
Kehidupan Filsafat dalam dunia Islam sesudah al-Ghazali berkembang dalam sebuah arah yang baru dan penting yang dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau Agama filosofis. Perkembangan ini, walaupun dalam corak pemikiran dan perjalanannya sangat dipengaruhi oleh Sufisme tetapi tetap nampak beberapa perbedaan signifikan diantara keduanya.
Fenomena yang telah kita sebut “Agama filosofis” walaupun sering mengidentikkan doktrin-doktrinnya dengan doktrin-doktrin Sufi terutama Sufisme spekulatif, tetapi bercirikan argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang logis dan murni intelektual. Sementara Sufisme semata-mata mengandalkan pengalaman atau intuisi gnostik dan lebih mempergunakan imajinasi puitis dibandingkan proses-proses rasional.
Ruang gerak perkembangan filsafat keagamaan yang murni ini atau disebut Agama filosofis muncul ke permukaan setelah berabad-abad mengalami ketegangan dengan Teologi dogmatis. Untuk keluar dari hambatan ini, para pembela filsafat menghapuskan kesimpulan-kesimpulan tertentu dari kesimpulan-kesimpulan anti dogmatis yang lebih ekstrim dari filosof-filosof klasik. Kegiatan neo-filosofis ini terutama sekali hidup subur sejak abad ke-7 H / 613 M. Ketika itu, hubungan baik antara filsafat dan teologi telah dikukuhkan kembali di atas dasar yang pasti dan telah memperoleh kembali keseimbangan tertentu setelah penolakan total al-Ghazali terutama terhadap al-Razi yang menjadi pusat kontroversi saat itu.
Pada abad ke-7 H / 13 M, muncul penulis-penulis dan kritikus-kritikus filsafat yang terkemuka dan gigih dalam mempertahankan filsafat pada umumnya. Namun disisi lain, mereka juga menerima pandangan-pandangan ortodoksi dalam masalah-masalah dogma yang paling kritis dan sensitif.
Hambatan lain dalam ruang linkup Agama filosofis ialah ketegangan dengan para tradisionis atau ahl al-Hadis yang tetap tinggal mendasar. Kadang-kadang ketegangan tersebut meletus menjadi gelombang keras serangan kelompok tradisionis terhadap intelektualisme. Bagi teologi sayap kanan, teologi kalam sendiri telah menjadi sasaran kecurigaan karena hubungannya yang intim kembali dengan filsafat.
Tradisi filosofis yang baru ini, bermula dengan karya Syihabuddin as-Suhrawardi (w. 587 H / 1191 M) pendiri illuminasi filosofis yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran sufi Ibnu Arabi dan mencapai perumusan akhirnya dalam karya Shadaruddin as-Syirazi yang berjudul empat perjalanan. Doktrin fundamental dari tradis ini adalah prinsip “tingkatan-tingkatan wujud”, yaitu suatu doktrin pantheisme yang dibangun diperinci diatas dasar teori Neoplatonik tentang emanasi.
Teori besar lainnya yang erat dengan prinsip ini adalah teori “Kognisi” yang meneguhkan persamaan pikiran dan wujud. Dari kedua teori sebelumnya, timbul doktrin ketiga yang memainkan peranan sentral dalam pandangan dunianya yang religius yang dalam perkembangannya memperoleh sumbangan yang esensial dari pemikiran sufi, yaitu doktrin “Alam Misal”, yakni suatu dunia citra-citra ontologis dimana realitas spritual dari ‘alam atas’ mengambil bentuk citra-citra konkrit dan dimana jasad-jasad kasar dari alam materi ini ‘alam bawah’ berubah menjadi jasad-jasad halus dan citra-citra.
Disamping gambaran realita monistik ini, as-Suhrawardi juga mengembangkan suatu teori pengetahuan menurut makna kognisi trjadi tidak melalui ‘abstraksi’ bentuk-bentuk sebagaimana diajarkan oleh filosof-filosof, tetapi melalui kesadarn langsung atau kehadiran yang dekat dari objek. Ia memandang fenomena kesadaran diri sebagai ciri primordial dari semua pengetahuan dan mengatakan kesadaran diri dengan membangkitkan kembali kuno Zoroaster tentang cahaya. Jadi, sebagaimana aliran wujud berproses dari relita hakiki melalui emanasi, maka demikian pula aliran cahaya atau kesadaran yang dekat berproses dari sumber hakikinya. Karena itu, kesadaran itu sendiri adalah suatu continuum yang dibedakan pada berbagai tingkatan oleh satu-satunya kategori lebih atau kurang.
Perkembangan tradisi filosofis dalam islam terdapat beberapa hal yang menjadi dasar signifikan perbedaan dengan filosof di barat. Di jalur barat, yaitu jalur Kristen pada umumnya akal dan hati (Iman) ternyata selalu bertarung berebut dominasi menguasai jalan manusia. Ringkasnya, sejak Thales sampai sofis akal menang; sejak Socrates sampai menjelang abad pertengahan akal dan hati sama-sama menang; pada abad pertengahan hati (Iman Kristen) menang; sejak Descartes sampai masa Kant akal menang lagi, sejak Kant sampai sekarang kelihatannya akal dan hati sama-sama menang di barat tetapi pada umumnya kerja sama itu tidak harmonis.
Di jalur timur, yaitu di dunia Islam keadannya hampir sama dengan di barat. Hampir sama berarti tidak sama. Ketidaksamaanya itu sekurang-kurangnya terdapat dalam dua hal: Pertama waktunya, Kedua sifat dominansinya. Tatkala akal sedang kalah total di barat, akal sedang dihargai sama dengan hati di timur. Ini mengenai dengan waktu. Mengenai sifat dominansi, akal di timur dihargai tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga menyebabkan orang Islam meninggalkan Agama lalu mengambil materealisme dan atheisme. Sedangkan dibarat dominasi akal terlalu besar sehingga orang ada yang mengambil materealisme dan atheisme sementara hati, tatkala mendominasi menentang akal secara total.
Secara garis besar, hal yang dapat disimpulkan mengenai filsafat islam menjelang munculnya filsafat keagamaan yang murni ialah filsafat dalam Islam tidaklah mati dengan serangan ortodoksi al-Ghazali sebagaimana dugaan para sarjana modern. Namun, Ia terus bergetar hidup sampai abad ke-11 H / 17 M. Pada perkembangan selanjutnya, filsafat Islam berubah secara radikal karena pengaruh mistisisme. Dari usaha yang bersifat rasional untuk memahami sifat realita obyektif, ia berubah menjadi usaha spritual untuk hidup serasi dengan realita tersebut. Disisi lain, pencapaian filsafat Islam melalui suatu romantisisme intelektual dengan identifikasi pikiran manusia dengan realita, yaitu pemikiran dengan wujud. Filsafat ini memberikan kenyamanan dan dikalangan masyarakat awam terbukti oleh penyebaran sufisme dalam Islam.
Jakarta, 2 Juli 2011
oleh : Hasrul
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta
Fakultas Ushluddin (Jurusan Tafsir Hadis)
Label:
Ilmu dan Filsafat
05.57
Usaha sungguh-sungguh untuk menyingkapkan segala sesuatu secara mendalam sehingga orang yang melakukannya dapat menangkap inti masalah sesuatu hal dinamakan filsafat. Filsafat berasal dari dua kata yunani yaitu philo-shopia. Philo berarti “cinta” dalam arti seluas-luasnya, dan Sophia berarti “cinta kepada kearifan.” Kata “kearifan” sendiri memiliki arti “mengetahui secara mendalam.” Dalam makna aslinya, filsafat dalam cabang ilmu Islam disebut ulim al-hikmah atau secara singkat al hikmah yang berarti ilmu kearifan. Pelaku filsagat disebut Filsuf yang diambil dari kataYunani “philosophos”. Dalam bahasa arab disebut juga al-hakim atau jamaknya al-hukama’.
TRADISI FILOSOFIS ISLAM
Usaha sungguh-sungguh untuk menyingkapkan segala sesuatu secara mendalam sehingga orang yang melakukannya dapat menangkap inti masalah sesuatu hal dinamakan filsafat. Filsafat berasal dari dua kata yunani yaitu philo-shopia. Philo berarti “cinta” dalam arti seluas-luasnya, dan Sophia berarti “cinta kepada kearifan.” Kata “kearifan” sendiri memiliki arti “mengetahui secara mendalam.” Dalam makna aslinya, filsafat dalam cabang ilmu Islam disebut ulim al-hikmah atau secara singkat al hikmah yang berarti ilmu kearifan. Pelaku filsagat disebut Filsuf yang diambil dari kataYunani “philosophos”. Dalam bahasa arab disebut juga al-hakim atau jamaknya al-hukama’.
Filsafat merupakan studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Abad ke-1 merupakan masa jaya kaum rasionalis atau liberal, namun belakangan kaum ortodoks berhasil membangun opini muslim bahwa hadits yang menjunjung tinggi akal adalah hadits lemah. Akibatnya, hadits itu tidak dimuat lagi dalam kitab hadits sesudahnya. Kaum rasionalis atau filsuf di masa awal sejarah islam perlahan-lahan disingkirkan. Rasionalitas Islam dibendung dan pemikiran keagamaan didominasi oleh pemikiran fiqih.
Theologi skolastik awal sangat dipengaruhi oleh karya-karya filsafat dan sains Yunani yang diterjemahkan kedalam bahasa bahasa arab pada tahun ke-2 H/ 9 M sampai ke-6 H / 12 M. Perkembangan kajian filsafat dalam Islam bercabang dan berkembang menjadi suatu gerakan filosofis dan ilmiah yang cemerlang dan kuat yang menghasilkan karya-karya yang orisinil dan bernilai tinggi sejak abad ke-3 H / 9 M sampai ke-6 H / 12 M.
Sepanjang abad ke-7 sampai 10 H, kalangan agamawan sepakat menyingkirkan filsafat dari agama. Filsafat dinilai menyesatkan manusia dan menyalahi doktrin Islam. Karena itu, filsuf adalah musuh Allah SWT dan rasul-Nya. Ironis itu masih berpengaruh hingga kini. Dengan kata lain, filsafat dalam dunia Islam telah kehilangan pecintanya sejalan dengan tumbuhnya semangat taklid. Namun baru-baru ini, apresiasi filsafat mulai tumbuh lagi.
Al-Ghazali (1058-1111) dinilai paling bertanggung jawab atas kemunduran tradisi filsagat islam. Penilaian itu didasarkan pada serangannya terhadap filsafat dan filsuf Islam. Terutama al-Farabi dan Ibnu Sina yang menurutnya dua filsuf Islam terbesar yang mewarisi tradisi filsafat Yunani, Khususnya Aristoteles. Al-Ghazali menuliskan sanggahannya terhadap filsafat itu dalam Tahafut al-Falaasifah (kesesatan kaum filosof).
Penolakan kaum ortodoks yang dirumuskan oleh al-Ghazali menyerang 20 masalah dalam pemikiran filsafat. Antara lain bahwa alam tidak bermula; Tuhan hanya tahu yang universal (kulliyat) tanpa tahu yang partikular (juz’iyat); dan tidak ada kebangkitan jasmani. Al-Ghazali menuduh para filsuf menyimpang dari agama karena ketiga keyakinan ini. Tetapi di luar masalah metafisika. Al Gazali menerima unsur filsafat lain. Khususnya logika (silogisme Aristotiles). Ini terlihat dalam karyanya seperti Mihak an-Nazar; Mi’yar al-‘Ilm; dan Qistas al-Mustaqim.
Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafah mereka.
Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa.
Banyak filsuf muslim terkenal dan disebut-sebut ketika orang berbicara mengenai filsafat. Berikut beberapa filsuf terkenal masa klasik Islam: Al-Kindi (801-873), Al-Farabi (879-950), Ar-Razi (865-925), Al-‘Amiri (w.934), ibnu Sina (980-1037), ibnu Maskawaih (941-1030), Al-Gazali (1058-1111), Ibnu Masarrah (l.883), Ibnu Bajjah (w. 1138), Ibnu Tufail (1100-1185), Ibnu Rusyd (1126-1198), Ibnu Sab’in (1217-1271) dan Ibnu Khaldun (1332-1406).
Oleh (Majjadi Arif Hidayatullah)
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta
Label:
Artikel,
Ilmu dan Filsafat

.jpg)